Posted by : Bryan Nuril Inzaghi
Jumat, 23 Januari 2015
Indonesia menjadi buah bibir pada saat pelaksanaan
Sidang Tahunan IMF/World Bank 2012 Tokyo, 9-14 Oktober 2012, lalu. Newsletter
resmi yang dibagikan IMF pada seluruh peserta sidang mengangkat satu topik
khusus mengenai Indonesia. Media itu mengangkat hasil riset dari McKinsey dan
Standard Chartered yang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia akan melampaui
Jerman dan Inggris pada tahun 2030.
Seorang kawan dari Amerika Serikat menyinggung hal itu
pada saya, saat sedang berbincang bersama sambil menanti berlangsungnya salah
satu sidang dalam rangkaian pertemuan IMF/WB tersebut. Ia menyatakan
kekagumannya atas pencapaian ekonomi Indonesia saat ini.
Keyakinannya tentu beralasan. Indonesia diperkirakan
memiliki sekitar 90 juta orang yang berada di kelompok “consuming class”. Angka
ini adalah angka terbesar di dunia setelah Cina dan India. Dengan kekuatan itu
pula, di tahun 2030, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor tujuh dunia
dengan nilai pendapatan nasional sebesar 1,8 triliun dolar AS dari sektor pertanian,
konsumsi, dan energi.
Indonesia saat ini sedang berada pada laju
transformasi yang pesat menuju ke arah tersebut. Saat ini, ekonomi Indonesia
berada pada posisi 16 dunia, dengan pendapatan domestik nasional sebesar 846
miliar dolar AS di tahun 2011. Angka ini akan terus tumbuh, hingga mencapai 1,8
triliun dolar AS mulai tahun 2017. Dan di tahun 2030, hanya AS, Cina, India,
Jepang, Brazil, dan Rusia, yang berada di atas ekonomi Indonesia.
Kekuatan terbesar ekonomi Indonesia bukan semata
ekspor yang didukung oleh kekuatan tenaga kerja dan komoditas, namun justu
kekuatan konsumsi domestik dan jasa-jasa, yang menjadi motor penggerak ekonomi
nasional.
Melihat potensi yang sedemikian besar, dalam beberapa
pertemuan side meetingsidang IMF yang sempat saya ikuti, para
investor asing mengharapkan adanya semakin banyak pilihan melakukan investasi
di Indonesia. Di satu sisi, mereka yakin dan paham betul akan ekonomi Indonesia
ke depan beserta potensinya. Namun saat ingin melakukan investasi, tak banyak
pilihan, baik di sektor riil maupun keuangan.
Di sektor keuangan, beberapa investor mengharapkan
premi yang rendah dalam memegang surat-surat berharga Indonesia. Hal ini
mengingat pula bahwa Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir ini tercatat
memiliki fluktuasi terendah dalam ekonominya dibanding negara-negara di OECD
dan BRIC. Utang pemerintah juga telah turun sebesar 70 persen dan saat ini yang
terendah di kalangan negara OECD. Mereka juga mengharapkan munculnya berbagai
pilihan investasi alternatif.
Harapan para investor tersebut tentu merupakan peluang
dan tantangan bagi Indonesia. Upaya melakukan pendalaman pasar keuangan (financial
deepening) menjadi penting dalam memberikan ragam pilihan investasi bagi
para investor. Di sisi lain, pembenahan di sektor riil dan infrastruktur perlu
terus dilakukan secara serius guna mendukung arah menjadikan ekonomi Indonesia
yang terbesar di Asia Tenggara.
Saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada pada
kisaran 5 persen hingga 6 persen, apabila dapat terus dipertahankan, akan
menambah jumlah masyarakat kelas menengah hingga 90 juta orang, dengan
pendapatan per kapita lebih dari 3600 dolar AS. Apabila kita mampu mendorong
pertumbuhan hingga 7 persen, jumlah itu bertambah lagi, dengan masyarakat
menengah mencapai 170 juta orang.
Berbagai perkembangan dari sidang akbar IMF di Tokyo
pekan lalu kembali mengingatkan kita tentang besarnya potensi Indonesia, dan
sempitnya momentum yang sedang kita lalui saat ini.
Apabila potensi itu tidak diwujudkan dalam aksi, dan
momentum yang baik dilewatkan begitu saja, karena kita begitu asyik dengan
urusan lain, maka prediksi para investor tersebut tidak akan menjadi kenyataan.
Tentunya pilihan ada di tangan kita semua saat ini. Salam Indonesia.
Related Posts :
- Back to Home »
- Bahasa Indonesia »
- Ekonomi Indonesia Akan Melampaui Jerman dan Inggris